PASURUAN – Di tengah masih banyaknya warga kurang mampu yang kesulitan mengakses layanan kesehatan akibat persoalan administrasi dan tunggakan BPJS Kesehatan, Gerakan Masyarakat Peduli Kemanusiaan (GMPK) Pasuruan Raya memilih tidak tinggal diam. Melalui konsolidasi relawan Ambulans GMPK di Desa Sruwi, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Selasa (16/6/2026), organisasi ini menegaskan komitmennya untuk hadir sebagai garda pendamping masyarakat yang membutuhkan.
Pertemuan rutin relawan yang selama ini dikenal aktif memberikan layanan ambulans sosial itu tidak sekadar membahas operasional organisasi. Forum tersebut berkembang menjadi ruang diskusi serius mengenai persoalan kesehatan masyarakat, khususnya warga yang terhambat memperoleh layanan medis akibat status kepesertaan BPJS yang bermasalah.
Kepala Desa Sruwi Tikam, perwakilan RSBD Bangil, Sunardi, S.Pd., pekerja sosial Dini, Lutfi, serta Ketua Umum GMPK Pasuruan Raya Lilis turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan masyarakat tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Dalam pembahasan yang berlangsung cukup intens, peserta menyoroti banyaknya warga yang masuk kategori tidak mampu namun belum dapat menerima bantuan iuran BPJS dari pemerintah karena terbentur pengelompokan kategori Desil (DISIL) yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Di sisi lain, tidak sedikit warga yang menanggung tunggakan BPJS cukup besar sehingga kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri. Di saat layanan kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat, masih terdapat kelompok rentan yang harus berjuang menghadapi persoalan administratif sebelum memperoleh hak mereka sebagai peserta jaminan kesehatan.
Relawan GMPK yang selama ini sering mendampingi pasien rujukan mengaku kerap menemukan kasus warga yang membutuhkan perawatan segera, namun terkendala status kepesertaan BPJS maupun tunggakan iuran. Akibatnya, proses pelayanan kesehatan menjadi lebih rumit dan membutuhkan pendampingan ekstra.
Karena itu, konsolidasi kali ini tidak hanya berfokus pada penguatan armada dan pelayanan ambulans, tetapi juga memperkuat fungsi advokasi sosial. GMPK berupaya menjadi jembatan antara masyarakat dengan instansi terkait melalui pendampingan administrasi, verifikasi data, hingga koordinasi untuk mencari solusi atas berbagai persoalan BPJS yang dihadapi warga.
Di sisi lain, Sunardi, S.Pd. memberikan pemahaman kepada relawan mengenai layanan rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas. Edukasi tersebut dinilai penting mengingat relawan ambulans sering berinteraksi langsung dengan kelompok rentan yang membutuhkan akses layanan sosial maupun kesehatan.
Bagi GMPK Pasuruan Raya, ambulans bukan hanya kendaraan pengantar pasien. Lebih dari itu, ambulans menjadi simbol kehadiran relawan di tengah masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan. Ketika warga kesulitan berobat, membutuhkan rujukan rumah sakit, atau menghadapi kendala administrasi kesehatan, relawan hadir memberikan pendampingan tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi.
"Kekuatan relawan terletak pada kebersamaan. Melalui konsolidasi rutin ini, kami ingin memastikan pelayanan ambulans GMPK semakin cepat, profesional, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar salah satu pengurus GMPK Pasuruan Raya.
Dari forum tersebut lahir kesepakatan untuk memperkuat pendataan warga, meningkatkan pendampingan administrasi BPJS, serta memperluas koordinasi dengan instansi terkait agar masyarakat yang berhak mendapatkan layanan kesehatan tidak kehilangan akses hanya karena persoalan data dan administrasi.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi masyarakat, langkah GMPK Pasuruan Raya menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan tidak cukup hanya hadir saat keadaan darurat. Pendampingan, advokasi, dan upaya mengawal hak-hak dasar warga menjadi bagian penting dari perjuangan kemanusiaan yang terus dijalankan relawan.
Written By: Bhawel_id
